Friday, July 2, 2010

TAK SANGGUP


by, Green Jea

Yang terasing dalam sudut hati
Yang terbuai pada tatapan semu
Yang hilang dalam bunga tidur sesaat
Yang tersakiti pada masa lalu

Terlena menunggu cahaya bulan
Berharap pada keajaiban bintang
Menyesali gelapnya malam tanpa airmata
Dalam kata-kata semu terangkai indah

Hingga tersadari pada matahari
Yang setia mencari
Menemukan
Menggapai
Tersenyum
Pada mata indah kekaguman
Pada rindu yang baru
Namun pada ketakutan masa lalu menghantui hati

Tak sanggup melawan masa lalu
Tak sanggup pada rasa terhina dalam sakit yang membekas.......

Wednesday, June 9, 2010

SAHABAT DIMANA?


by, Green Jea

Angin tak akan pernah berbohong
Pada jiwa berpelangi cinta
Pada sahabat yang menunggu.
Bulan hanya saksi bisu menghantar terang
Pada sahabat di sudut kejauhan
Pada perasaan terlupa tanpa sahabat

Melody irama kejujuran
Yang tak pernah terungkap pada sahabat
Bagai pasir tanpa bentuk tanpa arti
Namun nyata dan mengagumkan….

Jika kedekatan terbungkus kebohongan
Kemana hakikinya?
Saat waktu meraba pada titik kejenuhan
Menghantar logika pada kebosanan
Dan menjauh
Menghilang
Terbang tanpa pernah tersadari…..

Ada dan tiada sahabat
Bagimu adalah tiada….

Friday, June 4, 2010

Kedekatan Hati

by, Green Jea


Ada rasa yang tak pernah mau saling jujur

Yang hanya bermain pada tatapan mata.

Pada ada dan tiada kesempatan untuk saling tau



Rasa itu bukan untuk dipendam

Namun enggan untuk terakui

Hanya kata tak terarah dan sebuah alasan klasik

Menjadi kedekatan hati….

Menjadikan waktu sebuah anugerah



Pada satu kesamaan perasaan

Pada mata kami yang selalu bicara

Pada hati kami yang selalu ada

Pada kebahagian berbeda yang terasa

Pada suara saat menunggu waktu menghampiri



Cinta tak perlu diungkapkan

Cinta tak perlu kata-kata

Cinta adalah kedekatan hati pada suara dan tatapan

Dan rasa itu adalah kedekatan hati yang tak terakui

Their Face


by, Green Jea

Their faces are a gift from God
They come into this world not because of their desire
Their lives is a mirror of their own faces
An happiness, innocence and peaceful
Happiness in their lives is a great pleasure for their parents and for us.

When we see a small face and innocent they are, what we think?
We put so much hope on them.
Their faces are our future
The world is full of color because of the presence of their faces

But, the face will turn into the face of fear
The face is more painful
The face of a weak and full of tears ...
Face can only hope without being able to do anything about it ...

Their cheerful faces, their smiles and innocence they are slowly disappearing ...
Because their parents who can think more adults
With the people who make a face in there.
With anger, emptiness instincts, the mental emptiness and selfishness

I, you, and we all feel to be the face.
In our own happiness in the face of our innocent past.

However, they can only hope the real face
Without asking us cry of the suffering there
From their pain ...
From a torture which they feel ...

(Heisye Jeanine)
June '10

Wajah Mereka


by, Green Jea

Wajah-wajah mereka adalah sebuah anugerah dari Tuhan
Mereka datang di dunia ini bukan karena keinginan mereka
Hidup mereka adalah cermin dari wajah mereka sendiri
Sebuah keceriaan, kepolosan dan kedamaian
Kebahagiaan dalam hidup mereka adalah anugerah terindah bagi orangtua mereka dan bagi kita.

Saat kita melihat wajah mungil dan polos mereka, apa yang kita pikirkan?
Kita menaruh harapan begitu besar pada mereka.
Wajah-wajah itu adalah masa depan kita.
Dan dunia ini penuh warna karena kehadiran wajah-wajah mereka

Namun, wajah-wajah itu akan berubah menjadi wajah-wajah penuh ketakutan
Wajah yang menahan rasa sakit ...
Wajah yang penuh kepasrahan...
Wajah yang lemah dan penuh air mata ...
Wajah yang hanya bisa berharap tanpa bisa berbuat apa-apa ...

Wajah ceria mereka, senyuman mereka dan keluguan itu perlahan-lahan hilang...
Dengan kenyataan pada mereka yang bisa berpikir lebih dewasa
Karena orangtua yang menjadikan wajah-wajah itu ada.
Dengan kemarahan, kehampaan naluri, kekosongan jiwa dan keegoisan

Aku, kamu dan kita semua pernah merasakan menjadi wajah-wajah itu.
Dalam kebahagian kita tersendiri pada wajah-wajah masa lalu kita yang polos.

Tapi wajah mereka yang sebenarnya hanya mampu memohon
Tanpa meminta kita menagis akan penderitaan yang ada
Dari rasa sakit mereka ...
Dari penderitaan mereka...
Dalam sebuah penyiksaan yang mereka rasakan ...

June'10

Wednesday, June 2, 2010

Jenuh

by, Green Jea

Pada detik-detik yang bermain
Pada menit-menit yang menemani
Dengan kekosongan hati yang ada pada waktu tanpa basa-basi

Bukan saatnya untuk merenung
Bukan kehadirannya untuk sebuah pengertian
Bukan aku dengan hidupku
Namun aku dengan duniaku

Hanya jenuh pada sebuah kisah yang terdalami
Semakin jauh dengan logika yang bermain
Semakin dekat dengan waktu yang membohongi

Maaf jika jenuhku ………………………..

Monday, May 24, 2010

"GREEN-JEA": Sickened: The Memoir of a Munchausen by Proxy Childhood

"GREEN-JEA": Sickened: The Memoir of a Munchausen by Proxy Childhood

Sickened: The Memoir of a Munchausen by Proxy Childhood


written back by, Green Jea
(Heisye Jeanine)

Torture of children, although elusive and hard to believe, secretly much happening around us. One form of child abuse are almost not detectable and is really cruel as manifested by Julie Gregory, a victim of Munchausen by proxy, in his memoirs.
Munchausen by proxy is a form of child abuse where the perpetrator -usually the victim's mother- in every way to make his victim ill to gain sympathy and attention of others. The mother took the child from doctor to doctor, made the tests, moving from one hospital to another hospital and underwent surgery, while children are in fact did not hurt!

How can a child be able to resist the will of his own mother, who became a role model figure, which has all the answers from ignorance, and so trusted? How could the doctors and other professional bias to know that the mother had lied, because it is undeniable that what parents say is usually the best clue about what happened to the child.

A child who lives with fear, helplessness, its destruction until the discovery process itself and its power to escape from the madness of his mother and reach happiness in the ruins of the past.
Do they exist all around us?

#1. Seperti Apa Temanmu?

by, Green Jea

Catatan ini aku buat karena menyadari bahwa aku mempunyai teman yang tidak hanya seru dan unik tapi juga rumit
.
#1

Setahun yang lalu melalui sebuah komunitas di dunia maya aku berkenalan dengan seseorang. Jadilah dia mengisi salah satu friend list di page pada komunitas tersebut. Dia berasal dari negara yang sebenarnya cukup familiar bagiku. Namun secara geografis cukup rumit untuk dimengerti.

Dia bukan hanya sekedar teman pengisi friend list ku namun dalam beberapa kesempatan melalui chat room kami cukup sering membahas berbagai hal bersama beberapa teman dari berbagai negara. Saat itu aku tidak menangkap sesuatu yang istimewa darinya. Dia terkesan biasa-biasa saja sama seperti yang lain.

Hingga akhirnya, pertemanan kami dan beberapa teman lainnya pindah ke sebuah situs pergaulan. Sama seperti saat di komunitas, aku tetap merasa biasa-biasa saja. Aku malah asyik dengan teman-temanku yang berasal dari Indonesia yang juga anggota komunitas kami.

Suatu waktu aku menerima sebuah pesan melalui inbox ku. Pesan darinya. Isinya cukup membuat aku harus melihat page nya (hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya). Apa yang dia katakan melalui pesannya tersebut ternyata benar. Kami mempunyai kesukaan yang sama. Kami menyukai musik dan film yang sama. Dan alangkah terkejutnya aku ketika mendapati bahwa dia bisa mengartikan film yang selama ini dianggap biasa-biasa saja oleh kebanyakan orang. Dia bisa mempunyai pandangan yang sama persis denganku mengenai film itu. Dan dia juga mengagungkan quote dari film tersebut sama seperti aku.
Akhirnya kami saling berkirim pesan melalui inbox membahas film tersebut. Dan seiring perjalanan waktu, semakin banyak pula kami membahas hal-hal lain yang terjadi di sekitar kami.

Kembali dia memberitahuku bahwa bukan hanya sekedar film dan musik yang menjadi kesamaan kami namun pada beberapa hal lainnya. Ternyata kami menyukai beberapa tempat yang sama di beberapa negara di dunia ini. Kami menyukai sastra. Dan kemudian kami pun terlibat dalam filsafat-filsafat seru dalam dunia sastra.

Namun persamaan-persamaan yang kami miliki justru menjadi bumerang. Saat sedang membicarakan sesuatu, tak jarang kami melibatkan emosi. Hanya sekedar mempertahankan prinsip atau keegoan semata. Bahkan beberapa teman kami sering melerai kami saat kami berada di chat room. Namun entah mengapa, kami cepat menyadari dan setelah itu sikap kami seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Seolah-olah kami tidak pernah bersitegang saat membahas sesuatu. Aku pernah mencoba untuk mengalah namun aku merasa kalah jika hal itu aku lakukan.

Tadinya aku berpikir dia hanya teman di dunia maya karena memang segala sesuatunya terjadi di dunia maya semata. Ternyata aku salah. Dia meminta no hp ku dan setelah aku berikan hanya dalam hitungan menit, sebuah pesan singkat ku terima darinya. Dia cukup rajin mengirim pesan singkat padaku, entah hanya sekedar menyapa atau menceritakan hari-harinya. Aku tidak keberatan dan tetap berusaha ramah padanya dengan membalas setiap pesan singkatnya. Mungkin karena kebiasaan atau pembawaan negara kita yang (katanya) penuh keramahtamahan. Hanya saja keramahan ku bisa berubah menjadi emosi jika kami kembali membahas sesuatu yang cukup serius.

Menjelang awal april lalu, aku berangkat ke suatu negara di salah satu benua di dunia ini. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan disana. Sebelum berangkat aku sempat memberitahunya dan mengatakan bahwa opininya tentang sebuah buku akan aku ikutsertakan. Dan ternyata aku tidak perlu repot-repot membahas opininya tersebut disana sebab dia sendiri yang mengajukan opininya itu. Untuk pertama kalinya aku bertemu dengannya disana. Di sebuah kampus di kota yang menjadi salah satu kota yang kami suka. Ketika ku tanya, apakah dia juga mendapat undangan untuk menghadiri acara tersebut. Jawabanya hanya sebuah senyum.

Ada istilah yang mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Hari-hariku disana bersamanya membuat aku cukup mengenalnya secara pribadi. Dia seseorang yang baik, menyenangkan, pintar, cerdas namun keras kepala. Tidak di dunia maya, tidak juga melalui pesan singkat bahkan disana pun kami tetap bersitegang. Dan lagi-lagi kami segera menyadarinya dan hanya bisa tertawa. Di usianya saat ini, dengan pembawaannya, pandangan-pandangannya, cara berpikirnya, menurutku terlalu tinggi dan rumit.


Dia pernah memintaku untuk memasukkan namanya dalam daftar kakak-adik ku (sibling) di situs pergaulan kami. Barangkali hal-hal semacam itu pada sebuah situs pergaulan bukanlah hal yang penting. Dan aku tahu, kami memang cukup dekat namun aku merasa tidak ada kedekatan emosional. Egoku masih selalu bermain. Rasa tak ingin dikalahkan selalu ada. Itu sebabnya aku menolak permintaannya.

Teman-teman perempuanku banyak yang ingin berteman dengannya atau memintaku mengenalkannya. Ya, harus kuakui dia mempunyai daya tarik tersendiri. Perempuan mana yang tidak akan luluh mendapat keromantisan lawan jenisnya melalui permainan kata-katanya dalam sebuah puisi. Mungkin hanya mereka yang tahu siapa dia yang menganggapnya itu bukan suatu keromantisan termasuk aku.

Aku tidak pernah melarang siapaun menjadi temannya karena bukan aku yang berhak memutuskannya melainkan dia sendiri. Namun hingga saat ini, dalam daftar friend list nya tidak seorangpun temannya yang berasal dari negara yang sama denganku. Bahkan teman sesama komunitas kami pun tak ada. Dia cukup selektif dalam memilih teman, hingga terkesan sombang. Aku sendiri tidak tahu mengapa dia mau berteman denganku. Apapun alasannya, aku tetap menghargainya sebagai bentuk penghargaan darinya.

Bagiku dia teman yang seru kala kami sama-sama tidak mempunyai ide apa-apa. Kala kami membicarakan salah seorang teman kami. Kala dia muncul dengan kekreatifan dan kekonyolannya.
Dia teman yang unik kala sifat keras kepalanya bisa tiba-tiba berubah menjadi sebuah pengertian dan mau sedikit mengalah. Kala dia menjadi remaja seusianya dengan kenakalan-kenakalannya.
Dia teman yang rumit kala pandangan-pandangannya dan cara berpikirnya yang sering mendominasi orang lain.

Itulah dia.

(for my best friend, SA from M. Thank’s for your The Beach opinion.)

Like What Your Friends? (english)

by, Green Jea

I make this note because it realized that I had a friend who was not only exciting but also complex and unique.

# 1

A year ago through a community in cyberspace I am acquainted with someone. Be his friend fill one page on the list in the community. He comes from a country that is actually quite familiar to me. But geographically quite complicated to understand.

He's not just my friends but the charger friend list on several occasions through our chat room quite often to discuss various things with some friends from various countries. At that time I did not capture something special from him. He was impressed mediocre just like the others.

Until the end, our friendship and a few other friends moved to a site association. Just as when in the community, I still feel ordinary. I actually fun with my friends from Indonesia who was also a member of our community.

One time I received a message through my inbox. Message from him. Its contents should be enough to make me see her page (things that I never did before). What he is saying through his message is apparently true. We have the same preferences. We liked the same music and movies. And I was surprised to discover that he could interpret the film that is considered mediocre by most people. He can have the exact same views with me about that movie. And he also quotes from the movie glorifies the same as me.
Eventually we exchanged messages through your inbox to discuss the film. And as time goes on, the more we discuss other things going on around us.

Back he told me that not only movies and music into our similarities but on some other things. It turned out we liked some of the same place in several countries in the world. We loved literature. And then we were involved in exciting philosophies in the world of literature.

But the equations that we have actually backfired. We're talking about something, we often do not involve emotions. Merely maintain the principle or simply selfish. Even some of our friends we often arbitrate when we were in the chat room. But somehow, we quickly realized, and after that our attitude as if nothing ever happened. As if we never locked horns when discussing something. I once tried to beat but I feel lost if I do it.

At first I thought he was just a friend in the virtual world because things happen in cyberspace alone. It turns out I was wrong. He asked for my hp no and after I give in just minutes, a short message I received from him. He was diligent enough to send short messages to me, either just say hello or tell me about his day. I do not mind and keep trying him with a friendly reply to every message in short. Perhaps out of habit or traits of our country (he said) full hospitality. It's just that my friendliness could turn into emotions if we return to something quite serious.

By early April, I went to a country in one of the continent in the world. There is some work to do I finish there. Before leaving I had a chance to tell him and said that his opinion about a book I will Include. And apparently I did not bother to discuss his opinion is there because he himself who asked that his opinions. For the first time I met him there. At a college in town which is one city that we love. When I asked whether he also got an invitation to attend the event. The answer is only a smile.

There are terms that say, do not know it is not love. My days there with him makes me quite know him personally. He is someone who is good, fun, smart, intelligent but stubborn. Not in cyberspace, nor through short messages and even there we were still arguing. And again we immediately noticed and could only laugh. At his age now, with his demeanor, his views, his way of thinking, I think is too high and cumbersome.


He never asked me to enter his name in the list my brother and sister (sibling) in our association website. Perhaps such things on a social site is not important. And I knew, we were pretty close but I felt no emotional closeness. My ego was always playing. Pain did not want to beat is always there. That's why I refused his request.

Many of my girlfriends who want to be friends with him or asked me introduce. Yes, I must admit he has a special attraction. Where women are not going to yield a romance the opposite sex through the game the words in a poem. Perhaps only those who know who he is considered a romance that's not including me.
I never forbade anyone to be his friend because it was not me who has the right to decide, but he himself. But until now, the list of his friend list and none of her friends came from the same country with me. Even our fellow community did not exist. He was quite selective in choosing friends, to impress arrogant. I myself do not know why he wants to be friends with me. Whatever the reason, I still appreciate it as a form of respect from him.

To me he was a friend who was funny when we both had no idea anything. When we talk about one of our friends. When he appeared with creativity and foolishness.
He was a unique time stubborn nature can suddenly turn into a little understanding and willing to budge. When he became a teen-age with a naughty naughty.
He was a complicated time his views and his way of thinking that often dominates the others.

That's him.

Tuesday, May 18, 2010

PUASKAH KAU ?


By, Green Jea

Puaskah kau ?
Tertawa di atas air mataku ?
Dalam kegelisahan yang menusuk
Dalam kepiluan yang menyesakkan
Dalam kegelapan yang pekat
Dalam kesendirian yang terhempas
Dalam kekecewaan lumuri amarah

Aku benci mekarmu
Aku marah warnamu
Aku muak indahmu
Aku dendam keharummu

Tersadarku akan luka hati
Setetes embun sejuk kan harapan
Matahari sinari kenyataan
Waktu t’lah hadirkan senyum
Mendung terhapus pada beningnya kasih

Lihat dirimu....
Layu dalam mekar kepuasanmu
Terinjak dalam warna kesombonganmu
Terkubur dalam indah pesonamu
Terbuang dalam harum kata - katamu

Puaskah kau ?

Friday, May 14, 2010

The Heart's


By, Green Jea

Every time I fall for your eyes
Every where I fall for your voices
Like the raindrops fall in the sky
Like a sweet song….
With a whisper a melody

I remember sunset on fire
Nights of endless passion
Burning with desire..
Take me where the magic is
Let me hold you in my arms…
Unders the star
Rainy days and lonely nights
Only darkness there’s no light

When I close my eyes…
Sky is clear…
Ocean blue…
Touch my feel
I’m in paradise with you

With the days never alone..
With the heart’s never lonely…

Wednesday, May 12, 2010

Adalah Aku

by, Green-Jea

Menatap kosong pada kegelapan
Dalam sepi terselimuti dingin
Hingga hening terbingkai sesak
Menunggu di sudut kekalutan
Meraba waktu dalam lelap

Jika setitik cahaya adalah aku
Dalam sebuah senyum akan pengertian
Dalam bayangan indah tercampakkan
Juga aku menemani bayanganmu...
Menyentuh bukan meraba....
Di sisi kekosongan dan kehampaan
Mendekati bukan menghampiri...
Pada yang rapuh....

Tersenyum tulus....
Adalah aku dalam pengorbanan tersisa
Dan adalah aku dan aku!

Sunday, May 2, 2010

Tanya Rindu, Tanya Ku…….

by, green-jea

Rindu pada pagi dan malam
Rindu rupa….Rindu tanya…
Rindu sahabat… Rindu hati….

Pada senandung malam ada yang menatap
Pada cahaya mentari ada yang meraba
Pada senja terancam kelam ada yang menyentuh
Pada apa aku ada?

Tanya seorang bocah dengan polosnya…
Tanya seorang wanita dewasa dengan angkuhnya
Tanya seorang penguasa dengan arogannya….
Tanya sebuah hati dengan hancurnya…
Tanyaku pada siapa?

Pada yang dilalui tanpa terlalui
Pada yang terlampaui hasrat lampaui naluri
Pada yang tersentuh bukan menyentuh
Pada rindu yang kutanya tanpa kerinduan…….

Wednesday, April 28, 2010

Your Job....Your Fault....

Ada yang mengatakan jika kita mencintai pekerjaan kita, segalanya akan terasa ringan dan menyenangkan. Ada juga yang pernah mengatakan jika kita terbiasa dengan pekerjaan kita, kita bisa saja tiba-tiba menjadi seorang superman yang bisa mengatasi hal terburuk yang akan terjadi. Apa iya seperti itu?

Bagaimana keterbiasaan dan kecintaan kita pada pekerjaan tersebut kemudian membuat kita kehilangan arah, emosi atau apapun yang tercipta pada diri kita secara negatif jika kita tidak siap?! Pernah gak ya terpikirkan oleh kita sendiri atau oleh orang lain jika ketidaksiapan kita bisa menbuahkan sesuatu yanng negatif dan berdampak pada nama baik kita!

Hal kecil yang sering terlupakan adalah bumerang buat kita sendiri. Namun bukan berarti hanya jadi penyesalan yang gak ada gunanya, tapi jadi pelajaran yang berharga dan mengambilnya menjadi sebuah pengalaman terbesar.
Jangan pernah gengsi untuk meminta bantuan dan pembelajaran pada seseorang yang mengerti akan hal itu. Apa artinya "gengsi" kita jika kemudian menngacaukan segalanya? Apa artinya akhir dari pekerjaan kita jika emosi, keangkuhan, gengsi yang bermain?

Jangan kemudian kata maaf yang terucap untuk menenangkan keadaan yang telah terjadi jika yang telah terjadi hanya sebuah wacana belaka. Ini bukan yang pertama kali terjadi tapi jangan sampai akan terjadi untuk kesekian kalinya.

Saya pernah mengatakan pada seorang teman "Harus punya kesabaran ekstra untuk menghadapi sifat,karakter dan kemauan yg berbeda-beda demi profesional kerja..!" Mencintai pekerjaan kita, terbiasa dengan pekerjaan,kita, mahir pada pekerjaan kita bukan berarti kita menjadi sombong. Bukan berarti kita yang lebih tahu. Ketidaksiapan kita akan membuat kita suatu saat jatuh jika kita tidak pernah mau siap untuk itu dan terbelenggu akan rasa bersalah dan meyalahkan hal tersebut!

Pelangi Kami

by, Green Jea

Ada hati dalam kata dan kedekatan hari
Menerawang indahnya dunia...
Pada teman dan sahabat
Pada cerita dan cita...

Menemui senyum.....
Melalui rangkaian detik tercipta...
Mengiringi kesetiaan angin yang akrab menemani
Lembutnya suara pada nurani
Akan pelangi hati yang ada

Warna-warna aku, kamu dan kalian
Mengartikan kebersamaan.....
Bukan cinta dan jatuh cinta
Bukan memiliki dan termiliki

Namun pelangi hati kami di jiwa kami
Setia dalam waktu pada arti....

Friday, April 23, 2010

Penyesalan

by, Green-Jea

Terkujur pada bidang hitam yang sepi
Mencoba menoreh pada garis hati yang sepi

Kegagalan sosok yang seharusnya menemani, mengawasi, membimbing telah hancur, bersama keegoisan yang tercipta. Hanya sepenggal rasa bersalah yang akrab menemani hingga terdiam dalam waktu. Bukan merindu, menyayangi dan melindungi yang diinginkan.

Kemana sosok itu selalu pergi? Kemana sosok yang setia menemani itu ada? Hingga malam selalu membuat penyesalan yang tak ada gunanya! Hingga kata-kata hanya terucap tanpa makna. Hingga sebuah permakluman harus menjadi bagian kisi-kisi logika!

Tak akan ada yang bisa memapah hatinya yang sepi. Tidak waktu, sahabat bahkan sosok itu sekalipun. Hanya hitam pekatnya alam inilah riuh hatinya sesaat. Tanpa mau kembali pada pengertian hidup dan yang terhidupi.

Jangan sosok itu menjadi sosoknya kembali. Jangan kesepian hati menjadi irama tiap napasnya. Membelenggu pada suasana kelam yang terakui. Namun tak akan pernah hilang dalam kesetiaan waktu.

Yang hitam itu adalah sosok masa lalu…
Tercipta sempurna kembali pada jiwa yang lugu
Tanpa airmata namun selalu menangis dalam keangkuhan!

Monday, April 19, 2010

Suara Jiwa

by, green-jea

Alunan kelembutan suara tak pernah terdengar
Terselimuti gemuruh hati pada lubuk yang terdalam
Pengakuan jiwa akan bayangan kelabu
Menggetar pada sebuah kenyataan....

Hanya menemani dalam keberadaan semu
Hanya mencoba setia pada ilusi....
Hanya menari pada rasa sakit tertahan
Hanya melukis kisah pada kata-kata menenangkan...

Terbuai akan gelapnya malam
Terlelap dalam keindahan bulan
Terbangun pada arti yang sebenarnya

Hingga suara jiwa tetap bertanya....
Sampai kapankah?


...(",)...

Wednesday, April 14, 2010

Masa Lalu

by, green-jea

Wajah dingin terbuai alunan masa lalu
Kosong menatap....
Meraba tiap sudut relung jiwa
Memohon dalam keangkuhan...
Pada kemesraan sang waktu
Dan lembutnya kepasrahan....

Dalam belenggu masa lalu
Hanyut tanpa mampu bangkit
Melintasi paruh kenyataan
Akan hati terpuruk pada satu jiwa

Tuesday, April 13, 2010

Lelahku....

by, Green-Jea

Merintih dalam buaian angin...
Yang terbang dalam tangisan...
Akan keagungan cinta dan kepercayaan rasa...

Terbawa pesona kisah terselubung
Penantian dalam kebohongan..
Terhempas di keraguan sukma..

Kembali pada logika hidupmu
Pada warna duniamu..
Indah taman bungamu..
Kerinduan akan masa lalumu..

Hilang terbang terbawa adalah aku..
Sepenggal kenyataan dalam torehan cerita..
Hanya akan tersenyum pada janji terakhirku..
Untuk kamu dalam kebahagian hatiku..
Tanpa pernah memiliki namun indah!

Aku lelah dengan semua ini...!!.

Saturday, April 10, 2010

Kamu... Bukan Aku...

by, green-jea

Menatap keluguan jiwa
Terpesona pada kedekatan karakter
Terbelenggu pada kisah yang nyaman....
Bersama lalui satu cahaya...
Hingga sirna karena kejujuran..

Jika jiwa adalah milikmu...
Dan Hati tetap untuk Dia..
Ragaku milik siapa?

Aku tetap ada dalam bayang kesalahanmu..
Bukan tak bisa memaafkan...
Hanya mencoba menyadarkan....
Pada rongga napas yang polos menanti...
Kisah kita adalah kita
Bukan untuk menyakiti Dia...

(dedicated to: KP)

Friday, April 9, 2010

Dalam Warna Hati

by, green-jea

Hijau dalam hamparan hidup akan terlalui....
Pada detik yang bermain dalam balutan biru yang polos....
Terselimuti kehangatan emas...
Hingga gersang dengan seujung harapan....

Memohon tetesan kebeningan hati...
Jauhkan kesejukan...
Dekati jiwa..
Disisi hitam kelam tanpa batas.....

Untuk tersenyum pada kilauan penantian
Tertawa pada segala ketidakabadian....
Terpuruk pada abu-abunya ruang..
Menagisi merah yang tercipta.......
Tersesali pada hitam yang datang dan putih yang pergi....

Thursday, April 8, 2010

Cermin Cemburu

by, green-jea

Cermin dalam ruang rupa menangis
Wajah kesedihan yang jauh terpancar
Namun tak mau terakui........

Jangan bohong pada yang terpikirkan...
Bias wajah sendu tersampaikan pada kedekatan nurani...

Pada ketidak biasaan dan pembelaan karakter
Pada kejujuran akan hilangnya sebuah dunia
Padamu aku bertanya, adakah perbedaan itu?

Aku takut ada yang mencemburui
Karena aku telah cemburu pada kisi cermin tersembunyi....
Aku tetap ada di balik cermin cemburu.
Karena hari kita adalah milik kita......
Dalam irama apa yang kita rasakan....
Karena akan selalu ada Cermin Cemburu aku dan kamu.......!!!

Skeleton Key

Ini adalah salah satu puisi favorit gw......

(by,John Hollander)

o with what key shall I unlock this heart
Tight in a coffer of chest something awaits a jab a click a harp turn yes an opening
Out with it then
Let it pour into forms it molds itself
Much like an escape of dreaming
prisoners taking shape out in a
relenting air in bright volumes
unimaginable even amid interior blacknesses
let mine run out in
the sunny roads
Let them be released by modulations
of point by bend of line too tiny for
planning out back in hopeful dark
time or places
How to hold on to a par flat or wide enough
to grasp was not too hard
formerly and patterned edges cut themselves
What midget forms shall fall in line or row beyond
this wall of self
A key can open a car
Why not let me
O let me get in


"I love this one..... (",)...."

Saturday, March 27, 2010

THE BEACH (translation)

(from my best friend, Stefan Alievikj - Macedonia)

During the paradise

Preziminjata were on the world, why were probably related to the family and home, so never use or ask about them. It's strange: when I would like today to find some people who once knew the beach would have no better starting point than their nationality and bledoto memory of their faces.

Paradise turn into hell:

Began kicking, which soon turned into a lance. In the garden, hips, hands on, everywhere. Then pochekori trunk and started hitting her neck. Or at least I thought doing so. The shadow is not seen quite clearly and most of the stage was hidden by the broad back of Bags. I saw only when the camp. She was beheaded on Sammy. January otsekol and waved it in the air. (...) The scene before me with so much adrenaline napumpa forgot that I'm beaten. Can run the marathon, if needed, let alone in the dark otpolzam.
But we stayed there. Sun paralyze the disekcijata splavarite. Each otkinat ekstremitet zakovuvanje me how to be more about the place.
"Wait Chaveng in three days," read Only the stiff cold. "If you go back then, so we reached the beach. I'll see you there. Richard. "(...) The shine of soznanieshto that was so realistic that almost saw, their meaning became clear.
"After Tet, life returns to normal." (...) Sun lance, but cutting. Different pain less acute. Infinitely strange and disturbing.
"Not so," zajachiv.
Around my neck and wrapped something slips. Intestine. My, I thought, my brain is zgrchi fear and iskinav. Tugjincite laughing and more items opsipuvaa me. Hand raskopuvashe my chest. Ear zalepeno side of my head ...

/ lepenje 2 parche vo kolazhot /:

"Come on, Rich. Think. Think you need to do. "
"We should ..."
"Flat roof, the mob in a panic, there is no place ..."
"... The last helicopter."
"Great guy."
"Evacuation."
"Always."

Pator disappeared. Nozhovite halted. One gunman apologized and catch the stomach, another fell on bok waving hands ...

GAME OVER

14.9.1995 Last day on the beach

I feel that we should explain how all back home. But it will be a short report, because the story was finished. This is just an epilogue. Many talked. It remember most about the trip, the conversation. Pinned me to remember why it seemed so unexpected. I imagined some silence, we each pulled in their personal fears. The first part of the trip, night walk to the alloys, actually spent in silence. But just because they are afraid to not hear the guards. Once odlepivme from the shore and left, we opened mouths and no longer close.

(...)
October, 1996

At this moment sitting in front of the computer. At this moment I write this sentence in January. At this moment navrshuva one year and one month after letnav from Thailand. Never have met Francoise and Etienne. One day I will meet. It will be random, but I know that they will meet, because the world is small, but still less Europe.
With Kittim and Dzhed to watch continuously. Like those many conversations, and that is something I would not expect much. As a rule, had to part because we could not get out of the end of their joint past. But it was not so. We are good friends. Strange but vistinoto: both operate in the same place. Different companies, same building. What is more pochudno, the two took a job without knowing the other is there. But it is also pochudno, how to match the Indonesian hotel that camped two, so many years ago, one Kittim burned. Still have burned their offices, although it would be Icing on the cake. Kittim hates the their work (some gomnenici in administration), so shtoa it could happen. / Strange things happen all the time (Magnolija) /

And I ...
I'm good. Dream bad dreams, but Duffy never saw. I play video games. After a little pot. I stare at a large distance. I carry many scars ...

THE BEACH

(from my best friend, Stefan Alievikj - Mecedonia)

during the paradise:

Презимињата беа врска со Светот, веројатно зошто беа поврзани со семејството и домот, така што никогаш не ги користевме и не прашувавме за нив. Тоа е чудно: кога би сакал денес да најдам некој од луѓето што ги познавав некогаш на плажата би немал никаква подобра појдовна точка од нивната националност и бледото сеќавање на нивните лица.

paradise turn into hell:

Почна со клоцање, кое наскоро се претвори во бодење. Во градите, во слабините, во рацете, насекаде. Потоа го почекори трупот и почна да удира по вратот. Или барем мислев дека го прави тоа. Во сенката не се гледаше сосем јасно а поголемиот дел од сцената беше затскриен од широкиот грб на Багс. Видов само кога стана. Му ја имаше отсечено главата на Семи. Ја отсекол и мавташе со неа во воздухот. (...) Сцената пред мене ме напумпа со толку адреналин што заборавив дека сум претепан. Можев да трчам маратон, ако требаше, а камоли да отползам во мракот.
Но, останавме таму. Не парализира дисекцијата на сплаварите. Секој откинат екстремитет како да ме заковување се повеќе за местото.
„Чекајте во Чавенг три дена“, читаше Сал со вкочанета студенина. „Ако не се вратиме дотогаш, значи сме стигнале до плажата. Ќе се видиме таму. Ричард.“ (...) Со блесокот на сознаниешто што беше толку реален што речиси го видов, нивното значење стана јасно.
„По Тет, животот се враќа во нормала.“ (...) Не бодење, туку сечење. Поинаква болка, помалку акутна. Бескрајно непозната и вознемирувачка.
„Не така,“ зајачив.
Околу вратот ми се обви нешто лизгаво. Црева. Моите, помислив; мозокот ми се згрчи од страв и ги искинав. Туѓинците се смееја и се повеќе предмети ме опсипуваа. Рака што ми го раскопуваше градите. Уво залепено отстрана на мојата глава...

/lepenje 2 parche vo kolazhot/:

„Ајде, Рич. Размисли. Размисли што треба да правиш.“
„Треба да...“
„Рамен покрив, толпа во паника, веќе нема место во...“
„...Последниот хеликоптер.“
„Браво момче.“
„Евакуација.“
„Секогаш.“

Патор исчезна. Ножовите запреа. Еден напаѓач се изви и се фати за стомакот, некој друг падна на бок мавтајќи со рацете...

GAME OVER

14.9.1995 Last day on the beach

Чувствувам дека треба да објаснам како се вративме сите дома. Но тоа ќе биде краток извештај, затоа што приказната беше готова. Ова е само епилог. Многу разговаравме. На тоа се сеќавам најмногу во врска со патувањето- на разговорот. Закован ми е во сеќавањето зошто изгледаше толку неочекуван. Некој би замислил тишина, секој од нас повлечен во своите лични стравови. А првиот дел од патувањето, ноќното пешачење до сплавот, навистина помина во тишина. Но само затоа што се плашевме да не не чујат стражарите. Штом се одлепивме од брегот и тргнавме, ги отворивме устите и веќе не ги затворивме.

(...)
October, 1996

Во овој миг седам пред компјутерот. Во овој миг ја пишувам оваа реченица. Во овој миг навршува една година и еден месец откако летнав од Тајланд. Никогаш веќе не ги сретнав Франсоаз и Етјен. Еден ден ќе ги сретнам. Тоа ќе биде случајно, но знам дека ќе ги сретнам, зашто светот е мал, а Европа уште помала.
Со Кити и Џед се гледам постојано. Како и оние многубројни разговори, и тоа е нешто што не би се очекувало многу. По правило, требаше да се разделиме, зато не можевме да излеземе на крај со своето заедничко минато. Но не беше така. Добри пријатели сме. Чудно, но вистиното: двајцата работат на исто место. Различни фирми, иста зграда. Што е уште почудно, двајцата добија работа без да знаат дека другиот е таму. А што е исто почудно, тоа како да се совпаѓаше со оној индонезиски хотел во кој отседнале двајцата, толку години порано, оној што Кити го запалил. Уште ги немаат запалено своите канцеларии, иако тоа би било шлаг на тортата. Кити ја мрази својата работа (некакви гомненици во администрација), така штоа тоа и би можело да се случи. /Strange things happen all the time (Magnolija)/

А јас...
Јас сум добар. Сонувам лоши соништа, но Duffy никогаш повеќе не го видов. Играм видеоигри. По малку пушам трева. Зјапам во голема далечина. Носам многу лузни...

But, at least now I know paradise is not some place you can look for, coz it's not where you go, it's how you feel for a moment in your life. If you find that moment, it lasts forever.


Alex Garland - "The Beach"

Friday, March 26, 2010

ADALAH TANPA MAKNA

by, green-jea

Ada keresahan yang selama ini aku rasakan namun tak pernah mampu aku ungkapkan pada siapapun. Ku tutupi dengan kesibukan yang mulai menjenuhkan, dengan senyum yang terasa hambar, dengan kebesaran hati yang menyakitkan, dengan kesabaran hingga tak berujung!

Ada rasa yang mulai mengganggu hari-hariku namun tak pernah ku tahu dan yakini. ku tutupi rasa ini demi sebuah kebahagian lain, demi arti seorang aku, demi sosok aku di mata kalian, demi aku harus menahan air mataku sendiri, demi aku ingin melihat kamu selalu tersenyum dalam lelah dan masalahmu!

Ada sebuah kehidupan dan dunia lain yang kutahu namun tak pernah ku miliki. Ada sebuah episode yang tengah kamu dan kalian mainkan. Terhormai bagiku bisa ada dan sedikit saja menjadi bagiannya. Demi kebahagian dan arti sebuah dunia yang datang hingga saatnya aku yakin waktu yang akan memisahkan. Menjadi suatu bagian cerita lain dalam tiap waktu yang ku lalui. Sama seperti saat-saat terindah yang telah menjadi bagian itu dan terasa biasa dan harus ku akui kebesaran jiwa terasa menyakitkan pada sesuatu yang tak pernah bisa kita miliki.

Jika malam menjelang menghantarkanku pada indahnya sisi hidupku yang lain, aku hanya ingin bertanya....Salahkah aku....?! Jika semua tanyaku adalah kepercayaannya, jika pemikiranku adalah keberhasilan kalian. Jika hatiku bukan pada siapa2....
Salahkah jika aku MUAK dengan ini semua?!!

@green-jea, March 2010

Side of The Heart

by, green-jea

Tears staring at a story
Written words that I never could read
If a heart is not painful existence,
Why should there inner struggle?
Why should there greatness of soul?
Play again
Until able to turn back time

Why the loss is always there?
Until they fell to the ground
In a real existence of heart.
In a smile when the name is written

The story of the empty heartin in a corner
Echoes fill this room
Will the memories go some where?
There are no words that can come without a sorrow
Not can stop the rain
Until I hope you can take back
Although I have one of the existence of you ...
But I have been honest with my presence ...

Sisi Hati

by, green-jea

Menatap air mata pada sebuah kisah
Kata-kata tertuang yang aku tak pernah bisa terbaca
Jika sebuah keberadaan hati tidak menyakitkan,
Mengapa harus ada pertarungan batin?
Mengapa harus ada kebesaran jiwa?
Memainkannya berulang
Hingga mampu memutar kembali waktu

Mengapa rasa kehilangan itu selalu ada?
Hingga jatuh ke tanah
Dalam sebuah keberadaan hati yang nyata.
Dalam senyum saat nama tertulis

Kisah dalam gelas kosong di atas meja
Gema mengisi kamar ini
Akankah kenangan pergi entah kemana?
Tidak ada kata yang dapat datang tanpa sebuah kesedihan
Tidak juga dapat menghentikan hujan
Hingga kuharap kau bisa mengambil kembali
Walau aku telah salah akan keberadaan mu…
Namun aku telah jujur pada keberadaan hatiku…..

Bulan Muram


by, green-jea

ku
ingat
pada lima
titik dalam sketsa

.Di dinding jantung tanpa detak
..Tanpa warna binar kilauan makna
...Terselubung awan hitam pekat
....Hempas lepas purnama bulan
.....Di kejauhan malam gelap

Sketsa ragamu merangkak
Mencari Bulan mu.....
Di benak keraguan
Jika itu redupkan
ruang dan waktu

Hingga akhirnya
Bulan muram
Pada alam
mu.....

Aku Tahu

by, green-jea

Aku tahu....suatu saat aku akan kehilangan kamu......
Kamu akan pergi dengan duniamu..
Dan dengan kesedihanku...
Kamu akan kembali pada bunga-bungamu yang indah...
Dan dengan kecewaku..

Taman yang kamu ciptakan hanya sesaat untuk ku lihat..
Namun bukan untuk ku nikmati...!
Waktu yang kamu ciptakan hanya sesaat untuk ku rasa..
Namun bukan untuk ku miliki..

Aku tahu....kamu baik...
Tapi aku tak sanggup dengan kebaikan mu!
Aku tak sanggup dengan tamanmu....dengan bunga-bungamu..
dengan tawamu...dengan suaramu...

Aku tahu..suatu saat dan selamanya nanti...
Sayangku adalah abadi..
Dalam setiap kisahmu..
Dalam setiap ceritamu..
Dalam setiap hatimu..
Dalam masa depanmu..
Untuk janjiku selalu menemanimu..
Yang tak pernah kulihat namun kudengar...
Karena aku tahu....
waktu perlahan menghantarkan mu pada kejujuran....
Dalam tetes airmata kebodohanku...

Karena kejujuranmu yang polos..
Untuk aku kehilanganmu...!
Karena sadarku pada kenyataan....
Akan kamu dalam bagian hidupku!

B**** D***

by, green-jea

Basuh Muka
Urai Kata
Nurani Tercela
Ungkap Derita
Hidup Dimana?

Dosa Terabai
Iringi Waktu
Raga Teracuh
Inilah Akhir...!

N E S T A P A

by, green-jea

Nestapa hidup tak berarti Hampa

Erangan jiwa tak berarti Hina

Sinar kecewa tak berarti Binasa

Terpuruk hati tak berarti Nelangsa

Amati diri tak berarti Gila

Pandangi hari tak berarti Cerca

Akhir cinta tak berarti Nestapa

Wednesday, March 24, 2010

12 Nov 2007

by, green-jea

Kisah diam tercipta pada istana yang membisu....
Aku sutradara dan pemain utama
Dia penulis naskah yang sangat sempurna!
Alur cerita keegoan dan rasa tak bersalah
Namun bukan untuk di maklumi..

Membuang sekeliling....dengan pertanyaan mereka...
Dengan resah seorang penonton setia...
Dengan penghargaan terburuk yang kami terima...

Kami tidak butuh sidang pendewasaan!
Kami tidak butuh keberadaan kalian!
Kami punya cerita kami sendiri!

Dengan keras hati akan saudara sekandung!

Karena hingga detik ini ada....
Kami tidak akan pernah mengucap kata maaf......!!!

Kataku..

by, green jea

Aku hanya dapat tersenyum.........
Dalam waktu yang terus berjalan....
Yang setia dalam tiap detik dan menitnya.....
Seakan tahu aku akan diam dalam suara,
Namun tak akan pernah diam dalam imajinasi
Dalam khayalan terindah yang pernah ku pola........
Dalam kebahagian yang ku rasa.......
Dalam bunga tidur yang tak terarah...

Bulan selalu setia menemani langkah….
Dan bintang adalah teman dalam waktu…
Bersama warna warni bunga yang indah namun kan layu…
Hingga matahari akan mengantar pulang….
Sampai diam ku adalah…………..

Saat terindah dalam kesendirian....
Saat bahagia dalam kesepian hati…
Untuk doa akan langkah kedepan..
Untuk merenung akan saat yang terlewati
Untuk memahami kata-kata yang selalu terucap…
Namun bukan menyesali yang tak pernah tergapai……..
Karena hadiah terindah adalah hati kita sendiri….!!!

Thursday, March 18, 2010

Entahlah


by, green-jea

Saat sebuah senyum terindah itu ada..
Perlahan alirkan kebahagian dalam jiwa
Namun……….
Titik-titik kekecewaan menghampiri pelan…
Menuju titik kesedihan tanpa airmata……
Menenggelamkan segalanya…
Tanpa ada yang tahu…
Bahkan raga pun acuh….
Tanpa ada yang peduli…….
Bahkan angin pun menjauh…
Tanpa ada mau mengerti…..
Bahkan bayangan ini pun tak tampak

Kekecewaan tanpa makna..
Kosong…..
Dengan kesedihan diatas kehampaan kata-kata….
Bukan yang terdengar tapi terlihat!
Karena hati tak pernah mengenal kata kompromi
Dan logika harus menyimpan kepura-puraan….

Jika harus selalu tersenyum pada titik itu…
Aku ingin bertanya, sampai kapan?
Sampai waktu yang akan menghilangkan titik itu?
Sampai kejenuhan mengakhiri sebuah permainan?
Sampai logika menjadi keras kepala?
Sampai hati ini kembali mengalah?!
Dan sampai kapan titik itu menemani?

Jika…
Kecewaku adalah senyum palsu
Sedihku adalah diam….
Dan diamku hanya dapat berharap…
Tanpa mengantarkan pada sebuah kebahagian
Namun menunggu dengan berjiwa besar
Demi kebahagian!

Monday, March 15, 2010

Hilang

by, green-jea

Saat segala sesuatu menjadi sempurna...
Saat yang terindah akan tergapai..
Saat sebuah energi positif mengalir...
Saat senyum selalu menghiasi...dalam detik...dalam menit...dalam jam....
Dalam hari saat gelap menjadi terang....

Ketidak tahuan ini akan apa yang terjadi...
Rasa ingin tahu ini ...

Tetap pada satu jawaban yang pasti.....
Hilang!

Hilang bersama satu yang tak pernah tersesali...
Dan aku akan selalu mengingat bagian itu......
Walau kunci hati ini kan ku buang kembali...
Pada bagian hari yang harus ku lewati..
Bersama hilang yang tak mungkin ku temukan!

Saturday, March 13, 2010

Waktu

by, green-jea

Waktu juakan ku pada kebisuan
Waktu temukan ku pada kegelapan
Waktu suakan ku pada kekosongan
Waktu jauhkan ku pada suara
Waktu lepaskan ku pada tatapan
Waktu pisahkan ku pada kenyataan…

Waktu kah yang salah?
Waktu kah yang di benci?

Tidak…!
Waktu adalah kebaikan
Sebuah kesetian yang nyata
Sadarkan ku akan sebuah arti
Hantarkan ku pada kebahagian
Temani ku pada makna…

Jika bukan waktu…
Air mata ini tak akan ada
Pada sedihku terdalam
Dalam tidurmu yang panjang….

Friday, March 12, 2010

HANYA SEMU


by, green-jea

Sosok mu adalah air
Alirkan pesona namun tak terlihat..
Kisah mu adalah angin
Terbangkan jiwa namun tak terasa..
Suara mu adalah lagu
Sayupkan hati namun tak terdengar..

Jika detik baluti kesemuan..
Tertegun sesaat dalam kebodohan..
Ketika getar lambat menghantar
Merayap pelan bukakan mata..
Sekilas cepat terkuak hati..
Saat pesona itu tlah luluhkan ku
Saat suara itu tlah rapuhkan ku
Saat bimbang hadirkan tanya..

Untuk kata hati yang terendap
Untuk sanubari yang setia...
Untuk jauhkan hasrat
Atas kekaguman iringi khayal
Dalam angan sesaat.....
Dalam tatapan yang semakin jauh.......
Sebuah kesemuan dalam bingkai yang nyata!