Monday, May 24, 2010

#1. Seperti Apa Temanmu?

by, Green Jea

Catatan ini aku buat karena menyadari bahwa aku mempunyai teman yang tidak hanya seru dan unik tapi juga rumit
.
#1

Setahun yang lalu melalui sebuah komunitas di dunia maya aku berkenalan dengan seseorang. Jadilah dia mengisi salah satu friend list di page pada komunitas tersebut. Dia berasal dari negara yang sebenarnya cukup familiar bagiku. Namun secara geografis cukup rumit untuk dimengerti.

Dia bukan hanya sekedar teman pengisi friend list ku namun dalam beberapa kesempatan melalui chat room kami cukup sering membahas berbagai hal bersama beberapa teman dari berbagai negara. Saat itu aku tidak menangkap sesuatu yang istimewa darinya. Dia terkesan biasa-biasa saja sama seperti yang lain.

Hingga akhirnya, pertemanan kami dan beberapa teman lainnya pindah ke sebuah situs pergaulan. Sama seperti saat di komunitas, aku tetap merasa biasa-biasa saja. Aku malah asyik dengan teman-temanku yang berasal dari Indonesia yang juga anggota komunitas kami.

Suatu waktu aku menerima sebuah pesan melalui inbox ku. Pesan darinya. Isinya cukup membuat aku harus melihat page nya (hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya). Apa yang dia katakan melalui pesannya tersebut ternyata benar. Kami mempunyai kesukaan yang sama. Kami menyukai musik dan film yang sama. Dan alangkah terkejutnya aku ketika mendapati bahwa dia bisa mengartikan film yang selama ini dianggap biasa-biasa saja oleh kebanyakan orang. Dia bisa mempunyai pandangan yang sama persis denganku mengenai film itu. Dan dia juga mengagungkan quote dari film tersebut sama seperti aku.
Akhirnya kami saling berkirim pesan melalui inbox membahas film tersebut. Dan seiring perjalanan waktu, semakin banyak pula kami membahas hal-hal lain yang terjadi di sekitar kami.

Kembali dia memberitahuku bahwa bukan hanya sekedar film dan musik yang menjadi kesamaan kami namun pada beberapa hal lainnya. Ternyata kami menyukai beberapa tempat yang sama di beberapa negara di dunia ini. Kami menyukai sastra. Dan kemudian kami pun terlibat dalam filsafat-filsafat seru dalam dunia sastra.

Namun persamaan-persamaan yang kami miliki justru menjadi bumerang. Saat sedang membicarakan sesuatu, tak jarang kami melibatkan emosi. Hanya sekedar mempertahankan prinsip atau keegoan semata. Bahkan beberapa teman kami sering melerai kami saat kami berada di chat room. Namun entah mengapa, kami cepat menyadari dan setelah itu sikap kami seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Seolah-olah kami tidak pernah bersitegang saat membahas sesuatu. Aku pernah mencoba untuk mengalah namun aku merasa kalah jika hal itu aku lakukan.

Tadinya aku berpikir dia hanya teman di dunia maya karena memang segala sesuatunya terjadi di dunia maya semata. Ternyata aku salah. Dia meminta no hp ku dan setelah aku berikan hanya dalam hitungan menit, sebuah pesan singkat ku terima darinya. Dia cukup rajin mengirim pesan singkat padaku, entah hanya sekedar menyapa atau menceritakan hari-harinya. Aku tidak keberatan dan tetap berusaha ramah padanya dengan membalas setiap pesan singkatnya. Mungkin karena kebiasaan atau pembawaan negara kita yang (katanya) penuh keramahtamahan. Hanya saja keramahan ku bisa berubah menjadi emosi jika kami kembali membahas sesuatu yang cukup serius.

Menjelang awal april lalu, aku berangkat ke suatu negara di salah satu benua di dunia ini. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan disana. Sebelum berangkat aku sempat memberitahunya dan mengatakan bahwa opininya tentang sebuah buku akan aku ikutsertakan. Dan ternyata aku tidak perlu repot-repot membahas opininya tersebut disana sebab dia sendiri yang mengajukan opininya itu. Untuk pertama kalinya aku bertemu dengannya disana. Di sebuah kampus di kota yang menjadi salah satu kota yang kami suka. Ketika ku tanya, apakah dia juga mendapat undangan untuk menghadiri acara tersebut. Jawabanya hanya sebuah senyum.

Ada istilah yang mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Hari-hariku disana bersamanya membuat aku cukup mengenalnya secara pribadi. Dia seseorang yang baik, menyenangkan, pintar, cerdas namun keras kepala. Tidak di dunia maya, tidak juga melalui pesan singkat bahkan disana pun kami tetap bersitegang. Dan lagi-lagi kami segera menyadarinya dan hanya bisa tertawa. Di usianya saat ini, dengan pembawaannya, pandangan-pandangannya, cara berpikirnya, menurutku terlalu tinggi dan rumit.


Dia pernah memintaku untuk memasukkan namanya dalam daftar kakak-adik ku (sibling) di situs pergaulan kami. Barangkali hal-hal semacam itu pada sebuah situs pergaulan bukanlah hal yang penting. Dan aku tahu, kami memang cukup dekat namun aku merasa tidak ada kedekatan emosional. Egoku masih selalu bermain. Rasa tak ingin dikalahkan selalu ada. Itu sebabnya aku menolak permintaannya.

Teman-teman perempuanku banyak yang ingin berteman dengannya atau memintaku mengenalkannya. Ya, harus kuakui dia mempunyai daya tarik tersendiri. Perempuan mana yang tidak akan luluh mendapat keromantisan lawan jenisnya melalui permainan kata-katanya dalam sebuah puisi. Mungkin hanya mereka yang tahu siapa dia yang menganggapnya itu bukan suatu keromantisan termasuk aku.

Aku tidak pernah melarang siapaun menjadi temannya karena bukan aku yang berhak memutuskannya melainkan dia sendiri. Namun hingga saat ini, dalam daftar friend list nya tidak seorangpun temannya yang berasal dari negara yang sama denganku. Bahkan teman sesama komunitas kami pun tak ada. Dia cukup selektif dalam memilih teman, hingga terkesan sombang. Aku sendiri tidak tahu mengapa dia mau berteman denganku. Apapun alasannya, aku tetap menghargainya sebagai bentuk penghargaan darinya.

Bagiku dia teman yang seru kala kami sama-sama tidak mempunyai ide apa-apa. Kala kami membicarakan salah seorang teman kami. Kala dia muncul dengan kekreatifan dan kekonyolannya.
Dia teman yang unik kala sifat keras kepalanya bisa tiba-tiba berubah menjadi sebuah pengertian dan mau sedikit mengalah. Kala dia menjadi remaja seusianya dengan kenakalan-kenakalannya.
Dia teman yang rumit kala pandangan-pandangannya dan cara berpikirnya yang sering mendominasi orang lain.

Itulah dia.

(for my best friend, SA from M. Thank’s for your The Beach opinion.)