Monday, May 24, 2010
Sickened: The Memoir of a Munchausen by Proxy Childhood

written back by, Green Jea
(Heisye Jeanine)
Torture of children, although elusive and hard to believe, secretly much happening around us. One form of child abuse are almost not detectable and is really cruel as manifested by Julie Gregory, a victim of Munchausen by proxy, in his memoirs.
Munchausen by proxy is a form of child abuse where the perpetrator -usually the victim's mother- in every way to make his victim ill to gain sympathy and attention of others. The mother took the child from doctor to doctor, made the tests, moving from one hospital to another hospital and underwent surgery, while children are in fact did not hurt!
How can a child be able to resist the will of his own mother, who became a role model figure, which has all the answers from ignorance, and so trusted? How could the doctors and other professional bias to know that the mother had lied, because it is undeniable that what parents say is usually the best clue about what happened to the child.
A child who lives with fear, helplessness, its destruction until the discovery process itself and its power to escape from the madness of his mother and reach happiness in the ruins of the past.
Do they exist all around us?
#1. Seperti Apa Temanmu?
by, Green Jea
Catatan ini aku buat karena menyadari bahwa aku mempunyai teman yang tidak hanya seru dan unik tapi juga rumit
.
#1
Setahun yang lalu melalui sebuah komunitas di dunia maya aku berkenalan dengan seseorang. Jadilah dia mengisi salah satu friend list di page pada komunitas tersebut. Dia berasal dari negara yang sebenarnya cukup familiar bagiku. Namun secara geografis cukup rumit untuk dimengerti.
Dia bukan hanya sekedar teman pengisi friend list ku namun dalam beberapa kesempatan melalui chat room kami cukup sering membahas berbagai hal bersama beberapa teman dari berbagai negara. Saat itu aku tidak menangkap sesuatu yang istimewa darinya. Dia terkesan biasa-biasa saja sama seperti yang lain.
Hingga akhirnya, pertemanan kami dan beberapa teman lainnya pindah ke sebuah situs pergaulan. Sama seperti saat di komunitas, aku tetap merasa biasa-biasa saja. Aku malah asyik dengan teman-temanku yang berasal dari Indonesia yang juga anggota komunitas kami.
Suatu waktu aku menerima sebuah pesan melalui inbox ku. Pesan darinya. Isinya cukup membuat aku harus melihat page nya (hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya). Apa yang dia katakan melalui pesannya tersebut ternyata benar. Kami mempunyai kesukaan yang sama. Kami menyukai musik dan film yang sama. Dan alangkah terkejutnya aku ketika mendapati bahwa dia bisa mengartikan film yang selama ini dianggap biasa-biasa saja oleh kebanyakan orang. Dia bisa mempunyai pandangan yang sama persis denganku mengenai film itu. Dan dia juga mengagungkan quote dari film tersebut sama seperti aku.
Akhirnya kami saling berkirim pesan melalui inbox membahas film tersebut. Dan seiring perjalanan waktu, semakin banyak pula kami membahas hal-hal lain yang terjadi di sekitar kami.
Kembali dia memberitahuku bahwa bukan hanya sekedar film dan musik yang menjadi kesamaan kami namun pada beberapa hal lainnya. Ternyata kami menyukai beberapa tempat yang sama di beberapa negara di dunia ini. Kami menyukai sastra. Dan kemudian kami pun terlibat dalam filsafat-filsafat seru dalam dunia sastra.
Namun persamaan-persamaan yang kami miliki justru menjadi bumerang. Saat sedang membicarakan sesuatu, tak jarang kami melibatkan emosi. Hanya sekedar mempertahankan prinsip atau keegoan semata. Bahkan beberapa teman kami sering melerai kami saat kami berada di chat room. Namun entah mengapa, kami cepat menyadari dan setelah itu sikap kami seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Seolah-olah kami tidak pernah bersitegang saat membahas sesuatu. Aku pernah mencoba untuk mengalah namun aku merasa kalah jika hal itu aku lakukan.
Tadinya aku berpikir dia hanya teman di dunia maya karena memang segala sesuatunya terjadi di dunia maya semata. Ternyata aku salah. Dia meminta no hp ku dan setelah aku berikan hanya dalam hitungan menit, sebuah pesan singkat ku terima darinya. Dia cukup rajin mengirim pesan singkat padaku, entah hanya sekedar menyapa atau menceritakan hari-harinya. Aku tidak keberatan dan tetap berusaha ramah padanya dengan membalas setiap pesan singkatnya. Mungkin karena kebiasaan atau pembawaan negara kita yang (katanya) penuh keramahtamahan. Hanya saja keramahan ku bisa berubah menjadi emosi jika kami kembali membahas sesuatu yang cukup serius.
Menjelang awal april lalu, aku berangkat ke suatu negara di salah satu benua di dunia ini. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan disana. Sebelum berangkat aku sempat memberitahunya dan mengatakan bahwa opininya tentang sebuah buku akan aku ikutsertakan. Dan ternyata aku tidak perlu repot-repot membahas opininya tersebut disana sebab dia sendiri yang mengajukan opininya itu. Untuk pertama kalinya aku bertemu dengannya disana. Di sebuah kampus di kota yang menjadi salah satu kota yang kami suka. Ketika ku tanya, apakah dia juga mendapat undangan untuk menghadiri acara tersebut. Jawabanya hanya sebuah senyum.
Ada istilah yang mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Hari-hariku disana bersamanya membuat aku cukup mengenalnya secara pribadi. Dia seseorang yang baik, menyenangkan, pintar, cerdas namun keras kepala. Tidak di dunia maya, tidak juga melalui pesan singkat bahkan disana pun kami tetap bersitegang. Dan lagi-lagi kami segera menyadarinya dan hanya bisa tertawa. Di usianya saat ini, dengan pembawaannya, pandangan-pandangannya, cara berpikirnya, menurutku terlalu tinggi dan rumit.
Dia pernah memintaku untuk memasukkan namanya dalam daftar kakak-adik ku (sibling) di situs pergaulan kami. Barangkali hal-hal semacam itu pada sebuah situs pergaulan bukanlah hal yang penting. Dan aku tahu, kami memang cukup dekat namun aku merasa tidak ada kedekatan emosional. Egoku masih selalu bermain. Rasa tak ingin dikalahkan selalu ada. Itu sebabnya aku menolak permintaannya.
Teman-teman perempuanku banyak yang ingin berteman dengannya atau memintaku mengenalkannya. Ya, harus kuakui dia mempunyai daya tarik tersendiri. Perempuan mana yang tidak akan luluh mendapat keromantisan lawan jenisnya melalui permainan kata-katanya dalam sebuah puisi. Mungkin hanya mereka yang tahu siapa dia yang menganggapnya itu bukan suatu keromantisan termasuk aku.
Aku tidak pernah melarang siapaun menjadi temannya karena bukan aku yang berhak memutuskannya melainkan dia sendiri. Namun hingga saat ini, dalam daftar friend list nya tidak seorangpun temannya yang berasal dari negara yang sama denganku. Bahkan teman sesama komunitas kami pun tak ada. Dia cukup selektif dalam memilih teman, hingga terkesan sombang. Aku sendiri tidak tahu mengapa dia mau berteman denganku. Apapun alasannya, aku tetap menghargainya sebagai bentuk penghargaan darinya.
Bagiku dia teman yang seru kala kami sama-sama tidak mempunyai ide apa-apa. Kala kami membicarakan salah seorang teman kami. Kala dia muncul dengan kekreatifan dan kekonyolannya.
Dia teman yang unik kala sifat keras kepalanya bisa tiba-tiba berubah menjadi sebuah pengertian dan mau sedikit mengalah. Kala dia menjadi remaja seusianya dengan kenakalan-kenakalannya.
Dia teman yang rumit kala pandangan-pandangannya dan cara berpikirnya yang sering mendominasi orang lain.
Itulah dia.
(for my best friend, SA from M. Thank’s for your The Beach opinion.)
Catatan ini aku buat karena menyadari bahwa aku mempunyai teman yang tidak hanya seru dan unik tapi juga rumit
.
#1
Setahun yang lalu melalui sebuah komunitas di dunia maya aku berkenalan dengan seseorang. Jadilah dia mengisi salah satu friend list di page pada komunitas tersebut. Dia berasal dari negara yang sebenarnya cukup familiar bagiku. Namun secara geografis cukup rumit untuk dimengerti.
Dia bukan hanya sekedar teman pengisi friend list ku namun dalam beberapa kesempatan melalui chat room kami cukup sering membahas berbagai hal bersama beberapa teman dari berbagai negara. Saat itu aku tidak menangkap sesuatu yang istimewa darinya. Dia terkesan biasa-biasa saja sama seperti yang lain.
Hingga akhirnya, pertemanan kami dan beberapa teman lainnya pindah ke sebuah situs pergaulan. Sama seperti saat di komunitas, aku tetap merasa biasa-biasa saja. Aku malah asyik dengan teman-temanku yang berasal dari Indonesia yang juga anggota komunitas kami.
Suatu waktu aku menerima sebuah pesan melalui inbox ku. Pesan darinya. Isinya cukup membuat aku harus melihat page nya (hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya). Apa yang dia katakan melalui pesannya tersebut ternyata benar. Kami mempunyai kesukaan yang sama. Kami menyukai musik dan film yang sama. Dan alangkah terkejutnya aku ketika mendapati bahwa dia bisa mengartikan film yang selama ini dianggap biasa-biasa saja oleh kebanyakan orang. Dia bisa mempunyai pandangan yang sama persis denganku mengenai film itu. Dan dia juga mengagungkan quote dari film tersebut sama seperti aku.
Akhirnya kami saling berkirim pesan melalui inbox membahas film tersebut. Dan seiring perjalanan waktu, semakin banyak pula kami membahas hal-hal lain yang terjadi di sekitar kami.
Kembali dia memberitahuku bahwa bukan hanya sekedar film dan musik yang menjadi kesamaan kami namun pada beberapa hal lainnya. Ternyata kami menyukai beberapa tempat yang sama di beberapa negara di dunia ini. Kami menyukai sastra. Dan kemudian kami pun terlibat dalam filsafat-filsafat seru dalam dunia sastra.
Namun persamaan-persamaan yang kami miliki justru menjadi bumerang. Saat sedang membicarakan sesuatu, tak jarang kami melibatkan emosi. Hanya sekedar mempertahankan prinsip atau keegoan semata. Bahkan beberapa teman kami sering melerai kami saat kami berada di chat room. Namun entah mengapa, kami cepat menyadari dan setelah itu sikap kami seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Seolah-olah kami tidak pernah bersitegang saat membahas sesuatu. Aku pernah mencoba untuk mengalah namun aku merasa kalah jika hal itu aku lakukan.
Tadinya aku berpikir dia hanya teman di dunia maya karena memang segala sesuatunya terjadi di dunia maya semata. Ternyata aku salah. Dia meminta no hp ku dan setelah aku berikan hanya dalam hitungan menit, sebuah pesan singkat ku terima darinya. Dia cukup rajin mengirim pesan singkat padaku, entah hanya sekedar menyapa atau menceritakan hari-harinya. Aku tidak keberatan dan tetap berusaha ramah padanya dengan membalas setiap pesan singkatnya. Mungkin karena kebiasaan atau pembawaan negara kita yang (katanya) penuh keramahtamahan. Hanya saja keramahan ku bisa berubah menjadi emosi jika kami kembali membahas sesuatu yang cukup serius.
Menjelang awal april lalu, aku berangkat ke suatu negara di salah satu benua di dunia ini. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan disana. Sebelum berangkat aku sempat memberitahunya dan mengatakan bahwa opininya tentang sebuah buku akan aku ikutsertakan. Dan ternyata aku tidak perlu repot-repot membahas opininya tersebut disana sebab dia sendiri yang mengajukan opininya itu. Untuk pertama kalinya aku bertemu dengannya disana. Di sebuah kampus di kota yang menjadi salah satu kota yang kami suka. Ketika ku tanya, apakah dia juga mendapat undangan untuk menghadiri acara tersebut. Jawabanya hanya sebuah senyum.
Ada istilah yang mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Hari-hariku disana bersamanya membuat aku cukup mengenalnya secara pribadi. Dia seseorang yang baik, menyenangkan, pintar, cerdas namun keras kepala. Tidak di dunia maya, tidak juga melalui pesan singkat bahkan disana pun kami tetap bersitegang. Dan lagi-lagi kami segera menyadarinya dan hanya bisa tertawa. Di usianya saat ini, dengan pembawaannya, pandangan-pandangannya, cara berpikirnya, menurutku terlalu tinggi dan rumit.
Dia pernah memintaku untuk memasukkan namanya dalam daftar kakak-adik ku (sibling) di situs pergaulan kami. Barangkali hal-hal semacam itu pada sebuah situs pergaulan bukanlah hal yang penting. Dan aku tahu, kami memang cukup dekat namun aku merasa tidak ada kedekatan emosional. Egoku masih selalu bermain. Rasa tak ingin dikalahkan selalu ada. Itu sebabnya aku menolak permintaannya.
Teman-teman perempuanku banyak yang ingin berteman dengannya atau memintaku mengenalkannya. Ya, harus kuakui dia mempunyai daya tarik tersendiri. Perempuan mana yang tidak akan luluh mendapat keromantisan lawan jenisnya melalui permainan kata-katanya dalam sebuah puisi. Mungkin hanya mereka yang tahu siapa dia yang menganggapnya itu bukan suatu keromantisan termasuk aku.
Aku tidak pernah melarang siapaun menjadi temannya karena bukan aku yang berhak memutuskannya melainkan dia sendiri. Namun hingga saat ini, dalam daftar friend list nya tidak seorangpun temannya yang berasal dari negara yang sama denganku. Bahkan teman sesama komunitas kami pun tak ada. Dia cukup selektif dalam memilih teman, hingga terkesan sombang. Aku sendiri tidak tahu mengapa dia mau berteman denganku. Apapun alasannya, aku tetap menghargainya sebagai bentuk penghargaan darinya.
Bagiku dia teman yang seru kala kami sama-sama tidak mempunyai ide apa-apa. Kala kami membicarakan salah seorang teman kami. Kala dia muncul dengan kekreatifan dan kekonyolannya.
Dia teman yang unik kala sifat keras kepalanya bisa tiba-tiba berubah menjadi sebuah pengertian dan mau sedikit mengalah. Kala dia menjadi remaja seusianya dengan kenakalan-kenakalannya.
Dia teman yang rumit kala pandangan-pandangannya dan cara berpikirnya yang sering mendominasi orang lain.
Itulah dia.
(for my best friend, SA from M. Thank’s for your The Beach opinion.)
Like What Your Friends? (english)
by, Green Jea
I make this note because it realized that I had a friend who was not only exciting but also complex and unique.
# 1
A year ago through a community in cyberspace I am acquainted with someone. Be his friend fill one page on the list in the community. He comes from a country that is actually quite familiar to me. But geographically quite complicated to understand.
He's not just my friends but the charger friend list on several occasions through our chat room quite often to discuss various things with some friends from various countries. At that time I did not capture something special from him. He was impressed mediocre just like the others.
Until the end, our friendship and a few other friends moved to a site association. Just as when in the community, I still feel ordinary. I actually fun with my friends from Indonesia who was also a member of our community.
One time I received a message through my inbox. Message from him. Its contents should be enough to make me see her page (things that I never did before). What he is saying through his message is apparently true. We have the same preferences. We liked the same music and movies. And I was surprised to discover that he could interpret the film that is considered mediocre by most people. He can have the exact same views with me about that movie. And he also quotes from the movie glorifies the same as me.
Eventually we exchanged messages through your inbox to discuss the film. And as time goes on, the more we discuss other things going on around us.
Back he told me that not only movies and music into our similarities but on some other things. It turned out we liked some of the same place in several countries in the world. We loved literature. And then we were involved in exciting philosophies in the world of literature.
But the equations that we have actually backfired. We're talking about something, we often do not involve emotions. Merely maintain the principle or simply selfish. Even some of our friends we often arbitrate when we were in the chat room. But somehow, we quickly realized, and after that our attitude as if nothing ever happened. As if we never locked horns when discussing something. I once tried to beat but I feel lost if I do it.
At first I thought he was just a friend in the virtual world because things happen in cyberspace alone. It turns out I was wrong. He asked for my hp no and after I give in just minutes, a short message I received from him. He was diligent enough to send short messages to me, either just say hello or tell me about his day. I do not mind and keep trying him with a friendly reply to every message in short. Perhaps out of habit or traits of our country (he said) full hospitality. It's just that my friendliness could turn into emotions if we return to something quite serious.
By early April, I went to a country in one of the continent in the world. There is some work to do I finish there. Before leaving I had a chance to tell him and said that his opinion about a book I will Include. And apparently I did not bother to discuss his opinion is there because he himself who asked that his opinions. For the first time I met him there. At a college in town which is one city that we love. When I asked whether he also got an invitation to attend the event. The answer is only a smile.
There are terms that say, do not know it is not love. My days there with him makes me quite know him personally. He is someone who is good, fun, smart, intelligent but stubborn. Not in cyberspace, nor through short messages and even there we were still arguing. And again we immediately noticed and could only laugh. At his age now, with his demeanor, his views, his way of thinking, I think is too high and cumbersome.
He never asked me to enter his name in the list my brother and sister (sibling) in our association website. Perhaps such things on a social site is not important. And I knew, we were pretty close but I felt no emotional closeness. My ego was always playing. Pain did not want to beat is always there. That's why I refused his request.
Many of my girlfriends who want to be friends with him or asked me introduce. Yes, I must admit he has a special attraction. Where women are not going to yield a romance the opposite sex through the game the words in a poem. Perhaps only those who know who he is considered a romance that's not including me.
I never forbade anyone to be his friend because it was not me who has the right to decide, but he himself. But until now, the list of his friend list and none of her friends came from the same country with me. Even our fellow community did not exist. He was quite selective in choosing friends, to impress arrogant. I myself do not know why he wants to be friends with me. Whatever the reason, I still appreciate it as a form of respect from him.
To me he was a friend who was funny when we both had no idea anything. When we talk about one of our friends. When he appeared with creativity and foolishness.
He was a unique time stubborn nature can suddenly turn into a little understanding and willing to budge. When he became a teen-age with a naughty naughty.
He was a complicated time his views and his way of thinking that often dominates the others.
That's him.
I make this note because it realized that I had a friend who was not only exciting but also complex and unique.
# 1
A year ago through a community in cyberspace I am acquainted with someone. Be his friend fill one page on the list in the community. He comes from a country that is actually quite familiar to me. But geographically quite complicated to understand.
He's not just my friends but the charger friend list on several occasions through our chat room quite often to discuss various things with some friends from various countries. At that time I did not capture something special from him. He was impressed mediocre just like the others.
Until the end, our friendship and a few other friends moved to a site association. Just as when in the community, I still feel ordinary. I actually fun with my friends from Indonesia who was also a member of our community.
One time I received a message through my inbox. Message from him. Its contents should be enough to make me see her page (things that I never did before). What he is saying through his message is apparently true. We have the same preferences. We liked the same music and movies. And I was surprised to discover that he could interpret the film that is considered mediocre by most people. He can have the exact same views with me about that movie. And he also quotes from the movie glorifies the same as me.
Eventually we exchanged messages through your inbox to discuss the film. And as time goes on, the more we discuss other things going on around us.
Back he told me that not only movies and music into our similarities but on some other things. It turned out we liked some of the same place in several countries in the world. We loved literature. And then we were involved in exciting philosophies in the world of literature.
But the equations that we have actually backfired. We're talking about something, we often do not involve emotions. Merely maintain the principle or simply selfish. Even some of our friends we often arbitrate when we were in the chat room. But somehow, we quickly realized, and after that our attitude as if nothing ever happened. As if we never locked horns when discussing something. I once tried to beat but I feel lost if I do it.
At first I thought he was just a friend in the virtual world because things happen in cyberspace alone. It turns out I was wrong. He asked for my hp no and after I give in just minutes, a short message I received from him. He was diligent enough to send short messages to me, either just say hello or tell me about his day. I do not mind and keep trying him with a friendly reply to every message in short. Perhaps out of habit or traits of our country (he said) full hospitality. It's just that my friendliness could turn into emotions if we return to something quite serious.
By early April, I went to a country in one of the continent in the world. There is some work to do I finish there. Before leaving I had a chance to tell him and said that his opinion about a book I will Include. And apparently I did not bother to discuss his opinion is there because he himself who asked that his opinions. For the first time I met him there. At a college in town which is one city that we love. When I asked whether he also got an invitation to attend the event. The answer is only a smile.
There are terms that say, do not know it is not love. My days there with him makes me quite know him personally. He is someone who is good, fun, smart, intelligent but stubborn. Not in cyberspace, nor through short messages and even there we were still arguing. And again we immediately noticed and could only laugh. At his age now, with his demeanor, his views, his way of thinking, I think is too high and cumbersome.
He never asked me to enter his name in the list my brother and sister (sibling) in our association website. Perhaps such things on a social site is not important. And I knew, we were pretty close but I felt no emotional closeness. My ego was always playing. Pain did not want to beat is always there. That's why I refused his request.
Many of my girlfriends who want to be friends with him or asked me introduce. Yes, I must admit he has a special attraction. Where women are not going to yield a romance the opposite sex through the game the words in a poem. Perhaps only those who know who he is considered a romance that's not including me.
I never forbade anyone to be his friend because it was not me who has the right to decide, but he himself. But until now, the list of his friend list and none of her friends came from the same country with me. Even our fellow community did not exist. He was quite selective in choosing friends, to impress arrogant. I myself do not know why he wants to be friends with me. Whatever the reason, I still appreciate it as a form of respect from him.
To me he was a friend who was funny when we both had no idea anything. When we talk about one of our friends. When he appeared with creativity and foolishness.
He was a unique time stubborn nature can suddenly turn into a little understanding and willing to budge. When he became a teen-age with a naughty naughty.
He was a complicated time his views and his way of thinking that often dominates the others.
That's him.
Tuesday, May 18, 2010
PUASKAH KAU ?

By, Green Jea
Puaskah kau ?
Tertawa di atas air mataku ?
Dalam kegelisahan yang menusuk
Dalam kepiluan yang menyesakkan
Dalam kegelapan yang pekat
Dalam kesendirian yang terhempas
Dalam kekecewaan lumuri amarah
Aku benci mekarmu
Aku marah warnamu
Aku muak indahmu
Aku dendam keharummu
Tersadarku akan luka hati
Setetes embun sejuk kan harapan
Matahari sinari kenyataan
Waktu t’lah hadirkan senyum
Mendung terhapus pada beningnya kasih
Lihat dirimu....
Layu dalam mekar kepuasanmu
Terinjak dalam warna kesombonganmu
Terkubur dalam indah pesonamu
Terbuang dalam harum kata - katamu
Puaskah kau ?
Friday, May 14, 2010
The Heart's

By, Green Jea
Every time I fall for your eyes
Every where I fall for your voices
Like the raindrops fall in the sky
Like a sweet song….
With a whisper a melody
I remember sunset on fire
Nights of endless passion
Burning with desire..
Take me where the magic is
Let me hold you in my arms…
Unders the star
Rainy days and lonely nights
Only darkness there’s no light
When I close my eyes…
Sky is clear…
Ocean blue…
Touch my feel
I’m in paradise with you
With the days never alone..
With the heart’s never lonely…
Wednesday, May 12, 2010
Adalah Aku
by, Green-Jea
Menatap kosong pada kegelapan
Dalam sepi terselimuti dingin
Hingga hening terbingkai sesak
Menunggu di sudut kekalutan
Meraba waktu dalam lelap
Jika setitik cahaya adalah aku
Dalam sebuah senyum akan pengertian
Dalam bayangan indah tercampakkan
Juga aku menemani bayanganmu...
Menyentuh bukan meraba....
Di sisi kekosongan dan kehampaan
Mendekati bukan menghampiri...
Pada yang rapuh....
Tersenyum tulus....
Adalah aku dalam pengorbanan tersisa
Dan adalah aku dan aku!
Menatap kosong pada kegelapan
Dalam sepi terselimuti dingin
Hingga hening terbingkai sesak
Menunggu di sudut kekalutan
Meraba waktu dalam lelap
Jika setitik cahaya adalah aku
Dalam sebuah senyum akan pengertian
Dalam bayangan indah tercampakkan
Juga aku menemani bayanganmu...
Menyentuh bukan meraba....
Di sisi kekosongan dan kehampaan
Mendekati bukan menghampiri...
Pada yang rapuh....
Tersenyum tulus....
Adalah aku dalam pengorbanan tersisa
Dan adalah aku dan aku!
Sunday, May 2, 2010
Tanya Rindu, Tanya Ku…….
by, green-jea
Rindu pada pagi dan malam
Rindu rupa….Rindu tanya…
Rindu sahabat… Rindu hati….
Pada senandung malam ada yang menatap
Pada cahaya mentari ada yang meraba
Pada senja terancam kelam ada yang menyentuh
Pada apa aku ada?
Tanya seorang bocah dengan polosnya…
Tanya seorang wanita dewasa dengan angkuhnya
Tanya seorang penguasa dengan arogannya….
Tanya sebuah hati dengan hancurnya…
Tanyaku pada siapa?
Pada yang dilalui tanpa terlalui
Pada yang terlampaui hasrat lampaui naluri
Pada yang tersentuh bukan menyentuh
Pada rindu yang kutanya tanpa kerinduan…….
Rindu pada pagi dan malam
Rindu rupa….Rindu tanya…
Rindu sahabat… Rindu hati….
Pada senandung malam ada yang menatap
Pada cahaya mentari ada yang meraba
Pada senja terancam kelam ada yang menyentuh
Pada apa aku ada?
Tanya seorang bocah dengan polosnya…
Tanya seorang wanita dewasa dengan angkuhnya
Tanya seorang penguasa dengan arogannya….
Tanya sebuah hati dengan hancurnya…
Tanyaku pada siapa?
Pada yang dilalui tanpa terlalui
Pada yang terlampaui hasrat lampaui naluri
Pada yang tersentuh bukan menyentuh
Pada rindu yang kutanya tanpa kerinduan…….
Subscribe to:
Comments (Atom)